Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Geledah Rumah Andi Desfiandi, KPK Amankan Bukti Penerimaan Calon Mahasiswa Unila Jalur Suap

LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Jumat, 26 Agustus 2022, 16:58 WIB
Geledah Rumah Andi Desfiandi, KPK Amankan Bukti Penerimaan Calon Mahasiswa Unila Jalur Suap
Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri/RMOL
Kembali melakukan upaya paksa penggeledahan, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menemukan barang bukti berupa barang elektronik dari kediaman beberapa pihak yang terkait dengan kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022.

Jurubicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri mengatakan, tim penyidik telah selesai melaksanakan upaya paksa penggeledahan di beberapa lokasi kediaman tempat tinggal dari para pihak yang diduga terkait dengan perkara ini di wilayah Lampung pada Kamis (25/8).

"Dan benar satu diantaranya adalah kediaman tersangka AD," ujar Ali kepada wartawan, Jumat sore (26/8).

Upaya paksa penggeledahan itu kata Ali, dilakukan karena berdasarkan informasi dan petunjuk, lokasi-lokasi tersebut diduga ada beberapa bukti yang dapat menerangkan dugaan perbuatan para tersangka.

"Pada kegiatan tersebut ditemukan dan diamankan antara lain barang bukti eletronik yang selanjutnya akan digabungkan dengan bukti-bukti yang telah didapatkan tim penyidik pada penggeldahan sebelumnya. Selanjutnya segera dianalisis serta disita untuk melengkapi berkas perkara penyidikan para tersangka," pungkas Ali.

Sebelumnya dalam sepekan ini, tim penyidik juga sudah melakukan penggeledahan di beberapa tempat. Seperti menggeledah rumah tersangka Karomani (KRM) selaku Rektor Unila dan tiga rumah lainnya pada Rabu (24/8).

Dari penggeledahan di kediaman Karomani dan tiga rumah lainnya, tim penyidik mengamankan barang bukti berupa uang dalam pecahan rupiah, dolar Singapura, dan Euro senilai Rp 2,5 miliar; dokumen administrasi mahasiswa, dan barang elektronik.

Selanjutnya pada Selasa (23/8), tim penyidik sudah menggeledah tiga kantor Fakultas di Unila, yaitu kantor Fakultas Kedokteran, kantor Fakultas Hukum, dan kantor Fakultas FKIP. Kemudian pada Senin (22/8), tim penyidik juga sudah menggeledah kantor Rektorat Unila.

Dari penggeledahan beberapa lokasi itu, KPK telah mengamankan sejumlah dokumen dan bukti elektronik.

KPK resmi menetapkan dan menahan empat orang tersangka usai melakukan kegiatan tangkap tangan pada Jumat malam (19/8) hingga Sabtu (20/8), yaitu Karomani (KRM) selaku Rektor Unila periode 2020-2024; Heryandi (HY) selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila; Muhammad Basri (MB) selaku Ketua Senat Unila; dan Andi Desfiandi (AD) selaku swasta.

Dalam perkara ini, Unila membuka jalur khusus Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) untuk tahun akademik 2022.

Selama proses Simanila, tersangka Karomani diduga aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan para peserta dengan memerintahkan tersangka Heryandi dan Budi Sutomo selaku Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila, serta melibatkan tersangka Basri untuk turut serta menyeleksi secara personal terkait kesanggupan orang tua mahasiswa yang apabila ingin dinyatakan lulus, maka dapat dibantu dengan menyerahkan sejumlah uang selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan pihak Unila.

Karomani diduga mematok harga bervariasi, yaitu minimal Rp 100 juta sampai Rp 350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan.

Seluruh uang yang dikumpulkan Karomani melalui Mualimin selaku dosen yang berasal dari orang tua calon mahasiswa yang diluluskan Karomani berjumlah Rp 603 juta dan telah digunakan untuk keperluan pribadi Karomani sekitar Rp 575 juta.

Selain itu, KPK juga menemukan adanya sejumlah uang yang diterima Karomani melalui Budi Sutomo dan tersangka Basri yang berasal dari pihak orang tua calon mahasiswa yang diluluskan Karomani yang juga atas perintah Karomani uang tersebut telah dialih bentuk menjadi tabungan deposito, emas batangan, dan juga masih tersimpan dalam bentuk uang tunai dengan total seluruhnya sekitar Rp 4,4 miliar.

Sehingga secara total, uang yang sudah diterima Karomani sebesar Rp 5 miliar lebih. Bahkan, dalam kegiatan tangkap tangan, KPK juga mengamankan barang bukti dengan nilai total sebesar Rp 4.414.500.000 (Rp 4,4 miliar).

Barang bukti itu berupa uang tunai sebesar Rp 414,5 juta, slip setoran deposito di salah satu bank sebesar Rp 800 juta, kunci safe deposit box yang diduga berisi emas senilai Rp 1,4 miliar, dan kartu ATM dan buku tabungan sebesar Rp 1,8 miliar.

ARTIKEL LAINNYA