Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Giliran Guru Honorer SMK Uji UU Pemilu, Khawatir Presiden Terpilih Bukan Orang Indonesia Asli

LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Rabu, 06 Oktober 2021, 01:15 WIB
Giliran Guru Honorer SMK Uji UU Pemilu, Khawatir Presiden Terpilih Bukan Orang Indonesia Asli
Sidang Mahkamah Konstitusi (MK)/RMOL
Permohonan uji materiil terhadap Undang-Undang (UU) 7/2017 tentang Pemilu kembali masuk dan diterima Mahkamah Konstitusi (MK).

Kali ini, permohonan diajukan perseorangan yang berprofesi sebagai Guru Honorer SMK dari Dumai, Riau bernama Herifuddin Daulay.

Pada Selasa (5/10), MK menggelar sidang untuk permohonan yang diajukan Herifuddin yang teregistrasi dengan nomor 50/PUU-XIX/2021.

Pada permohonan ini, Herifuddin selaku Pemohon mengujikan Pasal 227 dan Pasal 229 UU Pemilu yang dinilai bertentangan dengan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945.

Hadir tanpa didampingi kuasa hukum, Herifuddin mengungkapkan alasan permohonannya bahwa bangsa dan kebangsaan Indonesia telah mengalami banyak kehidupan, mulai dari kehidupan di bawah kekuasaan kerajaan, penjajahan oleh bangsa lain, pergerakan perjuangan kemerdekaan, hingga reformasi.

Berpedoman pada Pembukaan UUD 1945, dia memandang tujuan utama perjuangan kemerdekaan adalah agar bangsa Indonesia dapat memimpin dirinya sendiri, termasuk pula di dalamnya presiden yang memimpin yang hanya dari Warga Negara Indonesia (WNI) berkebangsaan Indonesia asli.

"Ini adalah pokok urusan utama dalam kehidupan bernegara di NKRI sebagai wadah bernaungnya bangsa Indonesia. Dan hal yang tidak bisa dipungkiri, lahirnya NKRI adalah oleh bangsa Indonesia, bumi putera, yaitu Warga Negara Indonesia bertumpah darah Indonesia,” jelas Herifuddin dikutip redaksi melalui laman MK RI, Rabu dini hari (6/10).

Menurut Herifuddin, UU 7/2017 yang berlaku saat ini belum mencerminkan sebagai perpanjangan tangan aturan-aturan dasar UUD 1945 dalam hal memilih presiden dan wakil presiden.

"Bahwa masih terdapat kesalahan-kesalahan yang kategorinya fatal karena menyelisihi konstitusi," imbuhnya.

Kesalahan-kesalahan ini, sambung Herifuddin, bersifat fatal karena dapat menjadi celah kembalinya bangsa Indonesia dipimpin oleh bangsa lain namun berkewarganegaraan Indonesia.

Dalam nasihat Majelis Hakim Sidang Panel, Hakim Konstitusi Arief memberikan beberapa catatan perbaikan untuk permohonan yang diajukan Pemohon. Di antaranya Pemohon diharapkan dapat membaca PMK Nomor 2 Tahun 2021, yang di dalamnya termuat pedoman sistematika permohonan.

Selain itu, Pemohon juga diharapkan dapat mempelajari contoh permohonan yang baik pada laman MK (mkri.id) sehingga permohonan dapat menjadi sesuai dengan ketentuan hukum beracara MK.

"Dalam permohonan ini masih belum sesuai sistematikanya sehingga harus diperbaiki. Sistematikanya disesuaikan dan bukti yang dituliskan pada permohonan ini ditempatkan pada bagian tersendiri," kata Hakim Konstitusi Arief.

"Jadi, permohonan ini intinya terdiri dari uraian identitas, kewenangan Mahkamah, kedudukan hukum Pmeohon, yang di dalamnya diuraikan subjek perseorangan lalu kerugian konstusionalnya yang diakibatkan oleh pasal ini. Lalu, kenapa pasal ini bertentangan dengan UUD 1945," sambungnya menyarankan.

Sementara itu, Hakim Konstitusi Daniel memberikan nasihat agar Pemohon menguraikan kerugian konstitusional pihaknya, sehingga terlihat pertentangan keberlakukan UU a quo dengan norma yang ditetapkan UUD 1945.

Sedangkan Hakim Konstitusi Saldi, meminta agar Pemohon dapat menjelaskan kerugian yang dialami Pemohon jika presiden yang dipilih/terpilih bukan orang Indonesia asli.  

"Jika Pemohon tidak bisa menjelaskan kerugian dengan berlakunya UU ini dan mengapa ini diajukan, maka permohonan ini dapat saja dianggap tidak memiliki kedudukan hukum sehingga permohonan berhenti karena tidak ada kerugian yang benar-benar dialami Pemohon atas berlakunya norma yang diujikan ini," tandas Saldi.
EDITOR: AHMAD SATRYO

ARTIKEL LAINNYA