Aset Sudah Terjual Tapi Hak Upah Belum Dibayar, Buruh PT FNG Bakal Geruduk Bank Victoria

Aksi buruh PT FNG menuntut pembayaran hak upah mereka/Net

Setahun sudah perjuangan buruh PT Firna Glass (FNG) untuk mendapatkan hak upah mereka. Namun, tampaknya perjuangan mereka masih belum menemukan titik terang.

Meskipun sejumlah aset perusahaan telah berhasil dijual, tetap saja hak upah mereka sebagai buruh usai PT FNG dinyatakan pailit tak kunjung dibayar. Karena itu, para buruh akan mendatangi Bank Victoria untuk menanyakan hasil penjualan aset yang seharusnya dilanjutkan untuk membayar upah mereka.

“Dengan alasan ini kami PUK SPAI FSPMI PT FNG ingin meminta audensi dengan pihak Bank Viktoria pada Rabu (28/8),” sebut Ketua PUK PT. FNG, Haerudin melalui keterangan tertulisnya.

Haerudin menambahkan, alasan PUK PT FNG ingin mengadakan aksi massa di Bank Victoria adalah meminta pihak manajemen bank tersebut untuk memberikan hak upah pekerja anggota PUK PT FNG. Sebab, Bank Victoria adalah salah satu pihak yang memegang surat agunan atas sebidang lahan di Jl. Rawa Kepiting, Kawasan Industri Pulogadung.

Setelah PT FNG dinyatakan pailit, pihak kreditur memberikan kewenangan kepada pihak bank untuk menjual aset yang merupakan jaminan utang perusahaan. Dari tiga Bank, baru Bank Victoria yang sudah menjual aset perusahaan PT.FNG itu. Meski belum bisa menutup total utang perusahaan yang mencapai Rp 148 miliar.
 
Namun, meski sejumlah aset sudah berhasil dijual, hingga saat ini pihak Bank Victoria seolah menutup diri. Mereka tak mau membayarkan hak karyawan yang di-PHK.

Padahal, dalam keputusan MK 2015 terkait pailit, hak buruh atau upah yang belum dibayar harus didahulukan atau diutamakan. Upah adalah kewajiban yang harus di bayar terlebih dahulu.

Para pemegang agunan atau kreditur diberi waktu 2 bulan untuk menjual aset yang menjadi jaminan dari PT FNG. Itu yang dilakukan Bank Victoria pada 27 Juni 2019. Pihak Bank Victoria melakukan jual beli dengan cara AYDA (Aset Yang Di Ambil) atau disebut juga pengambilalihan aset seharga Rp 11 miliar.

"Dari hasil penjualan aset, kami dari PUK PT. FNG meminta kepada bank Victoria untuk segera membayarkan upah dari total 290 anggota PUK dengan jumlah sebesar 4,5 miliar rupiah lebih," lanjut Haerudin.

“Dengan alasan tersebut kami ingin melakukan aksi di Bank Victoria (28/8) guna menuntut dibayarnya hak 290 orang pekerja yang tergabung dalam FSPMI, yang mana di situ ada hak pekerja yang seharusnya diberikan dan dibagi dari hasil penjualan aset tersebut,” pungkasnya.
EDITOR: AGUS DWI
Tag:

Kolom Komentar


Video

#KamiMasihAda Pemkot Fasilitasi Launching Album 30 Musisi Semarang

Kamis, 24 September 2020
Video

Tanya Jawab Cak Ulung - Ancaman dan Peluang Pilkada

Kamis, 24 September 2020

Artikel Lainnya

Perusahaan BUMN Dalam Korupsi Proyek Jembatan Di Kabupaten Kampar Rugikan Keuangan Negara Rp 50 M
Hukum

Perusahaan BUMN Dalam Korups..

30 September 2020 03:27
Hary Prasetyo Akui Ada Praktek Window Dressing Laporan Keuangan Jiwasraya
Hukum

Hary Prasetyo Akui Ada Prakt..

29 September 2020 23:28
KPK Kembali Perpanjang Masa Tahanan 6 Tersangka Suap APBD Jambi
Hukum

KPK Kembali Perpanjang Masa ..

29 September 2020 21:46
Kasus Korupsi Proyek Jembatan Di Kampar Riau Terungkap, KPK Tahan Dua Tersangka
Hukum

Kasus Korupsi Proyek Jembata..

29 September 2020 19:22
Berkas Lengkap, Eks Sekretaris MA Nurhadi Dan Menantunya Diserahkan Ke JPU KPK
Hukum

Berkas Lengkap, Eks Sekretar..

29 September 2020 18:13
Jampidsus Persilakan JPU Dan Hakim Panggil ST Burhanuddin Dan Hatta Ali
Hukum

Jampidsus Persilakan JPU Dan..

29 September 2020 09:59
Bupati Kutim Ismunandar Dkk Tetap Ditahan Di Rutan KPK Hingga 30 Hari Ke Depan
Hukum

Bupati Kutim Ismunandar Dkk ..

29 September 2020 02:35
Maafkan Tersangka, Ahok Akhirnya Cabut Laporan Polisi Kasus Pencemaran Nama Baik
Hukum

Maafkan Tersangka, Ahok Akhi..

28 September 2020 22:20