Bantu Kasus Yang Menyeret Najib Razak, Irjen Agung Setya Terima Penghargaan Dari FBI

Jumat, 05 Juli 2019, 22:28 WIB
Laporan: Idham Anhari

Istimewa

Eks Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Irjen Agung Setya bersama 35 penyidik menerima penghargaan dari Biro Investigasi Federal alias FBI, Amerika Serikat.

Penghargaan itu diberikan atas bantuan Agung menyidik kasus yang menyeret mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dalam korupsi miliaran dolar proyek dana investasi pemerintah Malaysia yang dikenal sebagai 1MDB.

Deputi Direktur FBI David L Bowdich memberikan langsung penghargaan itu kepada Agung bersama timnya. Dalam acara ini, antara FBI dengan kepolisian RI yang diwakili Kebareskrim Polri Komjen Idham Azis juga meneken MoU tentang kerja sama dalam pembangunan kapasitas, mencegah dan memerangi kejahatan transnasional.

Dalam pidatonya, Idham merasa terhormat atas penghargaan yang diberikan FBI kepada Agung dan 34 penyidik Bareskrim. Penandatanganan ini juga menunjukkan komitmen kuat kepolisian untuk melanjutkan kerja sama dan kolaborasi kami dalam memerangi kejahatan.

"Seperti yang kita ketahui, kejahatan tumbuh secara masif dengan tipe baru, modus operandi baru, sindikat baru, yang terjadi tidak hanya di satu negara tetapi juga melibatkan negara lain," kata Idham di Bareskeim Mabes Polri, Jakarta, Jumat (5/7).

Mantan Kapolda Metro Jaya ini menilai teknologi sekarang berkembang pesat dan digunakan oleh hampir semua orang di dunia. Hal itu juga membawa kontribusi pada generasi baru kejahatan transnasional, seperti penyalahgunaan media sosial, penipuan kartu kredit, eksploitasi seksual anak, kejahatan dunia maya dan sejenisnya.

"Kalau tidak, ancaman terorisme, terorisme keuangan, terorisme siber harus dicegah untuk membuat orang-orang kita aman. Tidak ada satu negara pun yang dapat mengatasi kejahatan transnasional ini sendirian, oleh karena itu ada kebutuhan untuk kerja sama dan kolaborasi dengan negara lain," kata Idham.

Jenderal bintang tiga ini menambahkan, pihaknya sangat setuju menjalin kerja sama dengan rekan-rekan dari negara lain, seperti dengan FBI. Kerja sama ini didasari pada prinsip-prinsip kemerdekaan, non-campur tangan, kesetaraan, saling menguntungkan dan hak untuk kedaulatan dan integritas teritorial.

"Saya sangat yakin bahwa kerja sama kami akan tumbuh lebih kuat dan saling menguntungkan," tegas Idham.

Sementara itu, Agung yang kini menjabat Deputi Siber Badan Intelijen Negara ini sangat mengapresiasi penghargaan yang diberikan FBI. Dia merasa semua tim bekerja sama dengan baik sehingga bisa membantu pengungkapan kejahatan transnasional itu.

"Teman-teman penyidikan equanimity, diapresiasi oleh FBI atas kerja sama yang baik. Penghargaan itu berupa sertifikat," kata Agung.

Seperti diketahui, pada Februari 2018, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim melakukan penyitaan kapal pesiar Equaminity bernilai Rp 3,8 triliun. Penyitaan itu dilakukan atas permintaan FBI dalam rangka penyelidikan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kasus ini menyeret mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dalam korupsi miliaran dolar proyek dana investasi pemerintah Malaysia yang dikenal sebagai 1 Malaysia Development Berhad (1MDB).
EDITOR: AZAIRUS ADLU

Kolom Komentar


Video

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

Kamis, 08 Agustus 2019
Video

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Jumat, 09 Agustus 2019
Video

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Rabu, 14 Agustus 2019