On The Road of Devoted Service for the People
On The Road of Devoted Service for the People
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

"Pahit... Tapi Ini Menyehatkan"

Dahlan, Saksi Dan Buah Pare

Kamis, 20 Oktober 2016, 08:44 WIB
Margiono/Net
CATATAN : Margiono, Wartawan Rakyat Merdeka

TIGA hari diperiksa Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebagai saksi kasus dugaan korupsi, Dahlan Iskan kembali menarik perhatian publik. Ada apa lagi dengan bos Jawa Pos Grup yang juga bekas Dirut PLN dan bekas Menteri BUMN itu?

Pak Dahlan korupsi? Bukan. Dia keserempet dugaan korupsi yang terjadi di PT Panca Wira Usaha (PWU) perusahaan daerah milik Pemda Jawa Timur. Di perusahaan ini, pada tahun 2000-2010, dia menjadi Dirut. Yang sekarang jadi tersangka kasus ini ialah Wisnu Wardhana, bekas anak buah Pak Dahlan yang waktu itu menjabat Kepala Biro atau manajer penjualan aset.

Kejaksaan begitu yakin bahwa perkara ini ada korupsinya. Makanya Wisnu sudah ditetapkan jadi tersangka dan disel. Apakah Pak Dahlan juga akan dianggap korupsi karena dia dulu atasannya Wisnu? Inilah yang, antara lain, sekarang ditelusuri kejaksaan. Sampai pemeriksaan kedua, Selasa lalu jaksa mengatakan belum menemukan benang merah antara dugaan korupsi Wisnu dengan Pak Dahlan. Di pemeriksaan ketiga kemarin, Pak Dahlan juga masih sebatas saksi, walaupun akan kembali diperiksa Senin nanti.

Pak Dahlan sendiri tak keberatan dengan pemeriksaan atas dirinya. Ini karena dia yakin bahwa dia tidak korupsi, dan dia melakukan tindakan sesuai prosedur dan aturan dalam pelepasan aset milik PWU Jatim waktu itu. Dia pasti juga tak hendak menjerumuskan atau mengorbankan Wisnu yang pernah menjadi anak-buah kepercayaannya.

Pak Dahlan sendiri, kondisi kesehatannya belum prima betul pasca operasi ganti hati di China sembilan tahun lalu. Karena itulah dia masih sering ke China untuk kontrol kesehatan. Dia juga harus minum obat tiap hari dan tidak boleh lalai. Sebab, itu akan sangat membahayakan dirinya, lebih bahaya dari kasus hukum yang nyerempet dirinya itu.

Saya melihat Pak Dahlan legowo saja menghadapi masalah hukum yang menimpa dirinya bertubi-tubi dalam dua tahun terakhir. Banyak orang menaruh simpati, juga mengatakan bahwa dia sedang dikerjain oleh si anu, si ono, si ene, karena alasan ini, itu. Biasanya, dia tersenyum saja mendengar semua itu. Tak pernah membantah, juga tak pernah berkomentar.

Ketika dia ditetapkan jadi tersangka oleh Kejati DKI Jakarta dalam kasus dugaan korupsi pembangunan 21 gardu induk di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada 2011-2013 bulan Juni lalu, dia menanggapinya dengan mengajukan pra-peradilan, jalur hukum yang memang disediakan bagi setiap warga negara untuk memperoleh keadilan. Dia menang di praperadilan itu. Tapi Pak Dahlan tidak lalu berbangga-bangga dengan kemenangan. Tentu dia sadar bahwa sejumlah tuduhan masih mengelilinginya.

Ada yang berpendapat bahwa tuduhan-tuduhan itu berlatar belakang politik. Juga berlatar belakang kompetisi ekonomi. Berkali-kali saya berbicara dengan dia tentang isu yang berseliweran itu. Pak Dahlan selalu berkata begini; politik opo. Memang saya ini siapa. Hidup saya mengalir saja, kerja saja.

Tentang masalah ekonomi, Dahlan sepertinya tak merasa punya lawan, juga tak memusuhi siapapun. Bisnisnya di bidang media, kertas, listrik, pertanian, setahu saya dijalankan dengan lurus-lurus saja. Anak buahnya yang mengerjakan. Dia justru lebih fokus terus belajar dan menjaga kesehatan sejak dia jadi Dirut PLN. Hanya sekali-sekali dia share ide dan diskusi dengan pimpinan dan karyawan di Jawa Pos Grup.

Pernah juga kami menerima kabar bahwa Pak Dahlan dimusuhi banyak orang karena kebijakannya sewaktu menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN. Banyak orang merasa dirugikan dan kepotong ladang rezekinya gara-gara Pak Dahlan, katanya. Saya tak begitu paham soal omongan itu, juga tak pernah mengkonfirmasi kepada Pak Dahlan. Tapi saya sering mendengar dia bicara bahwa dia tidak pernah dan tidak bisa memberi uang dan fasilitas kepada siapapun dalam kaitan dengan jabatan yang dipegangnya. Saya tidak ngerti apakah pernyataan itu ada kaitannya dengan masalah tadi.

Begitulah tuduhan dan isu berseliweran terus mengelilinginya, saat dia sudah pengin hidup tenang melihat perkembangan Jawa Pos Grup, perusahaan yang dibangunnya dengan keringat dan air mata.

Di tengah hiruk pikuk persoalan itu, datang sejumlah orang mendekati orang dekat Pak Dahlan, menawarkan jasa untuk membereskan masalah hukum itu dengan meminta imbalan uang dengan jumlah yang sangat besar. Walah, orang-orang itu sepertinya nggak bener.

Pak Dahlan sendiri setahu saya tidak peduli dengan kabar itu. Di sebuah apartemen yang ditempatinya di Jakarta, dia berkata kepada saya. "Aku begini saja, aku tidak melakukan apa-apa untuk kasus-kasus itu. Saya berterima kasih pada orang-orang yang telah membantu saya. Mungkin mereka tahu saya."

Duduk bersila di karpet ruang tamu apartemen itu, Pak Dahlan lalu menyuruh saya minum jus buah pare, seperti yang selalu diminumnya setiap hari sebanyak 600 cc. "Pahit tapi segar dan menyehatkan," katanya. Dalam percakapan itu saya mendengar ada niat besar yang ingin dilakukan Pak Dahlan sekarang. Yakni, menyumbangkan pikiran dan ide kepada pemerintah, sebagai salah satu jalan keluar menghadapi masalah ekonomi yang berat sekarang ini. Mungkin langsung kepada Presiden Jokowi. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA